Psikologi Kartu Undangan

psikologi warna undangan
Sepuluh tahun berprofesi sebagai tukang cetak, sudah ribuan kali aku bertugas mencetak kartu undangan. Bahkan sampai undangan nikah orang Malaysia dan Singapura. Dari ribuan kali mataku melihat model, jenis kertas, warna kertas, warna tinta, bahasa, sampai aksesori yang dipakai di dalam kartu undangan, aku bisa menyimpulkan karakter dan sifat-sifat kedua mempelai. Kawan, berikut ini hasil penelitianku tersebut : -Mereka yang membuat kartu undangan berwarna hijau — rumahnya menghadap ke utara. -Mereka yang membuat kartu undangan berwarna kuning —kakeknya pernah ke Jerman. -Mereka yang membuat kartu undangan berwarna merah —tetangganya bekas tentara. -Mereka yang membuat kartu undangan berwarna merah jambu —tantenya cantik. -Mereka yang membuat kartu undangan berwarna hitam dan putih —ada gejala buta warna. -Mereka yang membuat kartu undangan berwarna coklat —waktu di khitan sembuhnya lama. -Mereka yang membuat kartu undangan berwarna ungu —rokoknya, rokok putih. -Mereka yang membuat kartu undangan berwarna coklat muda — punya luka di lutut sebelah kiri. -Mereka yang membuat kartu undangan dan kurang puas dengan hasilnya —pingin nikah lagi. -Mereka yang membuat kartu undangan datang ke percetakan naik sepeda motor tidak memakai helm— tetangganya Polantas. -Mereka yang membelikan kopi tukang cetak undangan—jatuh cinta pada tukang cetak. -Mereka yang membuat kartu undangan dan foto pre weddingnya sangat mesra—waktu pacaran pernah berciuman. -Mereka yang membuat kartu undangan dan tidak memakai foto pre wedding—takut sama MUI. -Mereka yang membuat kartu undangan ribet dan mahal—yang kondangan bupati. -Mereka yang membuat kartu undangan sedikit sekali—handpone-nya CDMA. -Mereka yang membuat kartu undangan fotokopian—menunya ikan tongkol. -Mereka yang membuat kartu undangan ukuran 13,5 x 18 cm—resepsinya nanggap dangdut. -Mereka yang membuat kartu undangan memakai puisi—belum pernah baca Khalil Gibran. -Mereka yang membuat kartu undangan memakai huruf kanji—kedua mempelai berkulit putih. -Mereka yang mendesain undangan,mencetak, finishing, dan memasukkannya ke plastik sendiri—pernah dikecewakan penerbit. -Mereka yang mengkoleksi kartu undangan—tak laku-laku. -Mereka yang malas bikin kartu undangan dan malas nikah—mempunyai tato kupu-kupu di pinggulnya.
Sumber : http://fiksi.kompasiana.com

Artikel Terkait

Previous
Next Post »