Showing posts with label Wisata Nganjuk. Show all posts
Showing posts with label Wisata Nganjuk. Show all posts

AIR TERJUN SEDUDO - SEJUTA MAKNA DIBALIK WAJAH MANISNYA

0
Banyak yang menyakini jika air terjun Sedudo mampu membuat awet muda siapa saja yang mandi disana. Ada apa dibalik mitos itu?
Jika kita mendengar wisata air terjun Sedudo yang terletak di Desa Ngliman Kec Sawahan, akan selalumuncul dibenak kita jika air terjun ini mempunyai banyak khasiat, salah satunya adalah menjadi obat awetmuda. Hal ini banyak diyakini masyarakat sekitar, jugamasyarakat diluar Nganjuk. Terbukti jika wisata airterjun ini tak pernah sepi dari pengunjung. Baik yanghanya sekedar ingin menikmati pemandangannnya yangindah, ataumemang sengaja ingin membuktikan mitos yangbanyak berkembang itu.Namun tak banyak yang tahu apa yang menyebabkan airterjun yang berada di Kab Nganjuk bagian selatan itumempunyai mitos seperti ini. Kalangan sejarah menilai,mitos ini berdasar atas sejarah terbentuknya airterjun itu dan kajian ilmiah.Harimintadji, salah satu tokoh sejarah di Nganjukmengungkapkan ada sejarah dan perkiraan secara ilmiahtentang mitos itu. Dari tinjauan sejarah, saat itu airterjun Sedudo dibuat oleh salah satu tokoh wargasekitar bernama Sanak Pogalan. Ia merupakan petanitebu yang harus menelan kecewa dari peenguasa jamanitu. Karena kekecewaannya inilah, ia kemudian menjadipertama disekitar sumber air terjun Sedudo. Dalamtapanya, ia berniat untuk menenggelamkan Kota Nganjuk dengan membuat sumber air yang sangat besar.
’’Dia bersumpah untuk menggelamkan desanya itu. Dandibuatlah sumber air yang sangat besar,’’ tuturHarmintadji, yang pernah menjabat sebagai Wedoro KabNganjuk itu.Karena kesucian Sanak Pogalan inilah, sebagian wargameyakini jika sumber air terjun Sedudo, mengandungbeberapa khasiat, salah satunya menjadi obat awet muda.
’’Menurut sejarhnya begitu,’’ tambahHarmintadji. Selain tentang sejarah, ia juga menduga jika secarailmiah khasiat obat awet muda dari air terjun Sedudoini bisa diraba. Menurutnya, pada jaman kerajan dulu, ada tokoh bernama Resi Curigonoto yang sengaja mengasingkan diri di atas lokasi air terjun.
Dalam pengasingannya itu, Resi Curigonoto berniat untuk menjadikan hutan itu sebagai kebun rempah-rempah. Karena menganggap jika tanah hutan, bisa menjadi mediayang sangat bagus untuk mengembangkan rempah-rempahyang saat itu menjadi kebutuhan pokok masyarakat. Resi Curigonoto lantas meminta Raja Kerajaan Kediri untukmengirim rempah-rempah ke tempat pengasingannya itu. Namun, tak begitu jauh dari tujuannya, tiba-tibagerobak-gerobak yang mengangkut rempah-renpah iiterguling diantara sumber air terjun Sedudo. ’’Lalurempah-rempah ini tumbuh subur hingga memenuhi hutanyang menjadi tempat sumber air terjun Sedudo,’’tambahnya.Sehingga, lanjut pria yang menjadi pegawai negerisipil (PNS) sejak tahun 1964 itu, air yang mengalir keair terjun Sedudo banyak mengandung rempah-rempah itu.’’Secara otomatis, rempah-rempah ini mampu menjadiobat yang multi khasiat, salah satunya adalah memmbuatwajah tampak bersih. Sehingga kelihatan awet muda,’’katanya.Mitos ini juga sdijunjung tinggi oleh Pemkab Nganjuksendiri. Buktinya, setiap bulan Syuro, Pemkab Nganjukmenggelar ritual ‘Siraman’. Dimana akan banyakmasyarakat Nganjuk yang mandi bersama di lokasi wisataair terjun ini. ’’Memang budaya siraman ini menjadi agenda tahunanPemkab Nganjuk. Selain untuk menarik wisatawan, jugauntuk melestarikan budaya yang sudah ada ratusan tahunsilam itu,’’ kata Ujang Zalkadri , Ka Sub Din Obyekdan Daya Tarik Wisata Disparbuda Nganjuk. (tritus julan)

Wisata baru Nganjuk - Taman Pandan Wilis

0
Wisata Baru Nganjuk  – Sejak Kamis lalu (14/1), masyarakat di sekitar Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk punya hiburan baru. Setiap sore ratusan orang berbondong-bondong memadati wahana hiburan baru berupa taman kota, tepatnya di tepi Jalan Raya Werungotok – Ngrengket, yang diberi nama Taman Pandan Wilis. Identitasnya pun sudah tampak dari kejauhan, karena terdapat ornamen tulisan nama raksasa ‘Taman Pandan Wilis’, yang bercat hijau terang sepanjang sekitar 10 meter tepat di pintu masuk menuju lokasi taman.
Pantauan koran ini sore kemarin sekitar pukul 16.00, ratusan pengunjung bahkan sudah berjubel mulai dari halaman pintu masuk sampai ke area dalam yang berupa unit-unit fasilitas taman mulai dari wahana air mancur, taman bunga hingga monumen utama yang dikelilingi kolam dangkal dan bertepi landai. Salah satu yang menjadi favorit pengunjung terutama anak-anak remaja adalah bangunan orneman nama ‘Taman Pandan Wilis’ itu sendiri, yang dijadikan background foto selfie. “Langsung saya upload ke Instagram, pamer ke teman-teman di Surabaya,” kata Nurdiana, 22, mahasiswi asal Desa Ngrengket, Kecamatan Sukomoro yang hari itu kebetulan sedang liburan.
Dia sendiri mengaku penasaran untuk datang ke taman setempat, setelah mengetahui informasi awal dari beredarnya foto-foto taman bernuansa hijau bertuliskan ‘Taman Pandan Wilis,’ yang disebut oleh para pengunggahnya berlokasi di Nganjuk. Konsepnya menurut Nurdiana mirip dengan tulisan ornamen Pantai Losari di Makassar atau Taman Bungkul di Kota Surabaya. “Saya cepat-cepat ingin tahu dong. Malu kalau ditanya nggak tahu lokasinya,” seloroh Nurdiana.
Kawasan setempat kemarin tidak hanya dipadati oleh anak-anak. Pengunjung keluarga yang membawa anak-anak kecil pun tak kalah banyak. Akibatnya, terjadi penumpukan kendaraan terutama sepeda motor di pintu masuk menuju taman, hingga menyebabkan arus lalu-lintas di jalan raya setempat agak tersendat. Beberapa pemuda kampung pun secara spontan membuka jasa parkir sambil menata agar kendaraan tidak meluber ke jalan-jalan dan menhindari aksi pencurian. Mereka pun mendapatkan keuntungan yang cukup lumayan. “Baru tiga hari ini dibuka, tapi sudah ramai sekali,” ujar Sadi, 30, salah satu pemuda setempat yang ikut menjaga kendaraan bermotor milik pengunjung.

Terpisah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Nganjuk Bambang Eko Suharto mengatakan, Taman Pandan Wilis sebenarnya adalah bagian dari program pengembangan kota hijau (P2KH) yang anggarannya menggunakan dana alokasi khusus (DAK), dan dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Nganjuk. Nama Pandan Wilis sendiri diambil dari Gunung Wilis yang menjadi ikon Kabupaten Nganjuk. “Saya sendiri baru tahu kalau respons masyarakat sudah sebesar ini, padahal belum resmi dibuka,” ujar Bambang.
Terkait pemilihan lokasi taman dan penambahan ornamen tulisan raksasa berbunyi ‘Taman Pandan Wilis’, menurut Bambang bisa membuat taman setempat menjadi landmark atau bangunan ikon Nganjuk yang baru. Antara lain karena keberadaannya sudah bisa terlihat dari jarak jauh. Termasuk nanti ketika jalur tol Surabaya-Solo sudah tuntas dan rencananya akan menempatkan gerbang interchange atau jalur keluar-masuk tol di Desa Ngrengket dengan jarak kurang dari 1 kilometer di utara Taman Pandan Wilis. “Orang dari luar kota yang masuk kota Nganjuk, akan langsung disuguhi pemandangan Taman Pandan Wilis,” pungkas Bambang. (pas/die)

Embung Estumulyo, Destinasi Wisata Baru Di Nganjuk

0
Embung Estumulyo, Destinasi Wisata Baru Di Nganjuk. Assalamualaikum trip-er, melanjutkan NGEtrip kemarin masih dari Kota Nganjuk (Baca : Air Terjun SingoKromo, Air Terjun Yang Masih Alami Di Nganjuk). Kali ini tempat wisata yang kita bahas adalah Embung Estumulyo. Sekedar info saja embung adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau). Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika, hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.

Embung Estumulyo sendiri terletak di Desa Bulurejo, kecamatan Sawahan, kira-kira 25 kilometer dari tengah kota Nganjuk. Kecamatan Sawahan sendiri merupakan daerah pegunungan sehingga hawa di sana sangat sejuk. Rute untuk menuju Embung Estumulyo Nganjuk adalah  Dari alun-alun Nganjuk, lurus saja melewati jalan A Yani, sampai menemui Adipura Loceret, lalu belok kanan. Sampai ke kecamatan Berbek. Lalu belok kiri lurus aja naik gunung. Sampai Pasar Sawahan lurus terus. Beloklah ke kanan kalau sudah melewati pertigaan Hotel Sanggrahan. Lurus saja sampai menemui pertigaan. Belok kiri. Lurus sampai pertigaan lagi, belok kanan. Ikuti jalan sampai ke lokasi. Jalan menuju Embung Estumulyo ini sebagian besar sudah diaspal sehingga mudah untuk dilalui baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Karena Embung Estumulyo ini bukan merupakan tempat yang belum banyak dikenal orang dan belum dikelola sebagai tempat wisata, maka untuk masuk ke Embung Estumulyo ini tidak ada retribusi alias gratis. Walaupun gratis Embung Estumulyo mampu memberikan pemandangan yang sangat memukau, tak kalah dengan tempat-tempat wisata lain.

Di Embung Estumulyo ini juga terdapat perahu getek (perahu dari bambu), jadi apabila Anda menemui perahu ini Anda bisa berfoto-foto ria dengan background pemandangan yang keren. Di sini kita juga akan menjumpai beberapa warga yang sedang memancing seperti di bendungan-bendungan lain.

Bila Anda berkunjung ke Kota Nganjuk, luangkan waktu untuk Ngetrip ke Embung Estumulyo ini ya. Sekian review singkat tentang Embung Estumulyo di Nganjuk. Mari Ngetrip dan terus lestarikan keindahan alam dan wisata Indonesia.
sumber : maringetrip

Air terjun tiga tingkat, Air tejun ngebeleng Jatikalen Nganjuk

0

Kabupaten Nganjuk merupakan nama salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jawa Timur, daerah ini memiliki luas 122.433 Ha yang terdiri dari dataran dan pegunungan. Dengan kondisi wilayah tersebut, tempat wisata di Nganjuk memang lebih banyak wisata alam meskipun ada juga tempat wisata yang lain. Berikut adalah tempat wisata di Nganjuk untuk anda kunjungi.

Air tejun ngebeleng adalah salah satu objek wisata yang anyar daerah Nganjuk, terletak di Dusun Tondowesi Desa Pule, Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk. Air terjun anyar ini mulai populer di tahun 2014,  karena memiliki bentuk unik, dalam waktu beberapa bulan saja sudah banyak pengunjung yang datang kesini, walaupun belum secara resmi dibuka sebagai tempat wisata oleh pemerintah.

ada 2 jalur menuju ke Air Terjun Ngebleng :
1. Dari Jombang kota - Plandaan - Balai Desa Lumpang Kuwik(masuk wilayah nganjuk) - Desa Cekel - Desa Lengkong Geneng (Ada  Jembatan belok Kiri) - Dusun Tondowesi Lor/Utara(Ndosie) cari rumahnya P.Amin RT.04 RW. 9 No.79, sebelah lapangan foli/Lapangan gembala sapi, buat parkir sepeda motor.
2. Dari Jombang kota - Plandaan (Sebelahnya polsek plandaan ada pertigaan belok kanan arah ke Kedung Cinet ) - Tanggugan( Balai desa pojok klitih ) - Balai Desa Pule - Sekolahan sdn Pule belok kanan-ndusun Putuk - Dusun Klitih - Dusun Tondowesi Lor/Utara(Ndosie) Ndosie cari rumahnya P.Amin RT.04 RW. 9 No.79, sebelah lapangan foli/Lapangan gembala sapi, buat parkir sepeda motor.

Air Terjun Ngebleng masih alami dan belum di kelola oleh daerah setempat, belum ada karcis masuk, parkir di rumah warga seiklasnya. Untuk menuju air terjun jalan kaki ± 2 km/ 1 jam an dari rumah warga, kalau musim kemarau sepeda motor bisa langsung ke air terjunnya. pas musim penghujan debit airnya lumayan deras, kalau musim kemarau airnya surut/sedikit.


 Jalan menuju air terjun ini sangatlah melelahkan menurut saya sendiri, padahal saya sendiri adalah penduduk asli nganjuk. Karena kita harus masuk ke pelosok pelosok desa, dan kemudian meninggalkan kendaraan, lalu masuk ke hutan untuk menuju ke tempat air terjun, berjalan sejauh 3 kilometer, namun rasa lelah akan hilang ketika anda melihat keunikan air terjun ngebleng ini yang sangat benar-benar unik. Air terjun ini mempunyai 3 tingkatan, dengan ketingian sekitar 12 meter dari bawah. jika anda berkunjung ke kota nganjuk jangan lupa untuk datang ke wisata yang satu ini. Ada juga wisata Air terjun  yang tidak kalah uniknya, adalah Air Serjun Sedudo. Nah jika anda penasaran datang saja ke kabupaten Nganjuk


Sejarah Dan Mitos Wisata Air Terjun Sedudo

0
Sejarah Dan Mitos Wisata Air Terjun Sedudo Di Nganjuk Jawa Timur - Jawa Timur memang memiliki alam yang elok, sehingga banyak wisata alam disini. Salah satunya adalah air terjun Sedudo yang berada di Kaki Gunung Wilis. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 105 meter yang dibalut dengan bebatuan dan alam yang masih asri di sekitarnya. Selain menawarkan panorama alam yang mempesona dengan hawa sejuknya, Air terjun Sedudo ternyata menyimpan sebuah mitos yang hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Konon jika ada seseorang yang mandi dikolam yang ada di bawah air terjun ini akan mendapatkan berkah, awet muda, naik pangkat dan bisa disembuhkan dari penyakit yang dideritanya.


Mitos Air Terjun Sedudo
Mau percaya atau tidak itu hak sobat masing-masing, namun yang jelas ketika bulan sura datang ribuan warga yang berasal dari berbagai daerah berdatangan untuk mandi disini. Tak hanya dari kalangan masyarakat saja, dari kalangan elite politik juga tak jarang ditemui tengah berendam di kolam bahkan sampai tengah malam. Hal ini dibenarkan oleh Lies Nurhayati, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk. Menurutnya banyak para pejabat nega yang mandi di bawah air terjun saat tengah malam. Wisata Air Terjun Sedudo memang menjadi "primadona" bagi warga Nganjuk dan sekitarnya baik dijadikan obyek wisata atau untuk ritual. Tak hanya di bulan Sura saja, ketika malam jumat kliwon tak sedikit pengunjung yang datang untuk mandi di air terjun ini.
Sejarah Air Terjun Sedudo
Dibalik keindahannya, Air terjun sedudo ternyata memiliki sejarah panjang. Pada jama Kerajaan Majapahit, air terjun ini sering digunakan untuk mencuci senajata milik Raja Majapahit dan patung yang digunakan upacara Prana Prathista. Konon Gajah Mada pernah menggembleng prajuritnya di lokasi air terjun sedudo. Selang beberapa tahun kemudian ketika Kerajaan islam mulai berkembang, Air Terjun Sedudo pernah digunakan sebagai tempat pertamaan Ki Ageng Ngaliman yakni seorang penyebar agama islam di daerah Nganjuk. Oleh karena itu setiap bulan sura selalu digelar ritual mandi sedudo yang diawali dengan tarian oleh enam penari perawan berambut panjang. 
Air Terjun Sedudo Menjadi Obyek Wisata Andalan Kabupaten Nganjuk
Terlepas dari sejarah dan mitos Air Terjun Sedudo, obyek wisata ini memang menawarkan panorama yang indah. Bahkan wisata air terjun sedudo dijadikan ikon Kabupaten Nganjuk. Berada di daerah dengan ketinggian sekitar 1438 meter diatas permukaan air laut, membuat udara disini begitu sejuk. Menikmati panorama alam yang masih asri serta tiupan angin pegunungan yang sejuk, membuat para wisatawan betah berlama-lama disini. Kendati demikian wisatawan diharapkan tetap berhati-hati, pasalnya saat cuaca buruk sering terjadi angin kencang dan hujan deras yang mengakibatkan tanah longsor dan banjir. 
Sebagai Obyek wisata andalah Kabupaten Nganjuk, tentu saja fasilitas disini memadai. Di lokasi wisata Air Terjun Sedudo terdapat tempat parkir yang luas, area permainan , warung makan dan kios souvenir di beberapa titik, kamar mandi, kolam dan sebagainya. Kendati demikian pihak pengelola merasa kesulitan untuk mengembangkan lebih jauh lantaran struktur tanah disini mudah longsor. Untuk menuju lokasi air terjun sedudo, sobat bisa menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Jika dari ibu kota Nganjuk atau dari Pendapa Kabupaten Nganjuk lokasinya masih berjarak sekitar 30 Km arah selatan.

Menikmati Sunset di Puncak Bukit Songgong Sawahan Nganjuk

0
SAWAHAN – Destinasi wisata alternatif di Nganjuk makin banyak saja. Yang terbaru, setelah wahana arung jeram menggunakan ban karet di Sungai Petungulung, Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan, kali ini giliran wisata bertema pemandangan alam di puncak Bukit Songgong, salah satu dari deretan perbukitan yang ada di lereng utara Gunung Wilis.
Secara geografis lokasinya juga masih termasuk wilayah Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan, tepatnya di perbatasan Dusun Ngroto dan Dusun Sumber Tumpeng. Kebanyakan pengunjung yang datang ingin menikmati matahari terbenam (sunset) sembari berfoto ria bersama teman dan keluarga.
Keberadaan lokasi ini ramai diperbincangkan orang seminggu terakhir. Berawal dari informasi mulut ke mulut, dengan cepat kabar dan foto-foto gambaran lokasinya menyebar luas di situs jejaring sosial seperti facebook (FB), twitter hingga instagram. Sampai kemarin, sudah ribuan orang yang kebanyakan anak-anak muda sudah mengunjungi lokasi ini, lantaran bentuknya yang unik. Yakni berupa taman luas di puncak bukit yang tersusun dari ratusan batuan runcing. “Yang banyak malah dari luar kota. Dari Malang, Madiun, Surabaya,” ujar Mali, 35, pemuda desa setempat yang setiap hari ikut mengelola lokasi wisata baru tersebut.
Mali mengakui rasa penasaran orang yang tinggi dipicu oleh penampakan bentuknya yang berupa tatanan batu-batu besar berbentuk runcing menyerupai bentuk nasi tumpeng. Tidak jarang pengunjung dari luar kota yang diantar oleh Mali menuju lokasi, awalnya mengira tempat itu adalah situs prasejarah sejenis candi, seperti yang ada di situs megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. “Ini taman baru dibuat, sebelumnya hutan lebat,” kata Mali.
Pembangunan taman itu memakan waktu sembilan bulan sejak Januari 2015 lalu. Sang perancang sekaligus pembuat taman tersebut, Kasnoto, 60, pria asal Desa Sidorejo, Kecamatan Sawahan, mengerjakan sebagian besar ‘proyek’-nya itu sendiri dan sisanya dibantu oleh warga dan pemuda desa setempat termasuk Mali. Pembangunan dilakukan di atas lahan puncak bukit seluas sekitar 1 hektare, dengan mengambil bahan baku batu endemik berbentuk runcing yang sangat melimpah di permukaan tanah seluruh kawasan bukit, mulai bawah sampai puncak. Dia juga sengaja dipilih lokasi dengan pemandangan lembah dan deretan perbukitan Wilis yang paling indah. “Dan ternyata benar-benar ada yang suka dan memuji,” ucap Mali lagi.
Sore kemarin, Jawa Pos Radar Nganjuk melihat sendiri begitu ramainya lokasi taman Bukit Songgong. Puluhan orang yang kebanyakan anak muda asyik berfoto ria dengan gaya selfie menggunakan ponsel, maupun para fotografer dari berbagai kota yang datang dengan peralatan kamera prosfesional. Sisanya, adalah pengunjung keluarga yang membawa serta anak-anak kecil. “Sempat ada ide mau ditiketkan, tapi saya larang. Biar sementara orang-orang bebas menikmati pemandangan di sini,” lanjut Mali.
Roby, 21, salah satu pengunjung asal Caruban, Madiun sore kemarin tampak betah berlama-lama di lokasi, bersama rombongan teman sebayanya sampai hari gelap. Niat awalnya datang sore kemarin selain melihat taman batu yang eksotis, karena ingin menikmati pemandangan matahari terbenam di balik lembah sisi timur bukit. Namun karena langit dan matahari sore kemarin terututup awan, dia akhirnya memutuskan untuk lebih lama berada di Nganjuk sambil menunggu matahari terbit di sudut lain, di sisi barat Bukit Songgong pagi harinya. “Ini yang saya suka, bisa lihat matahari terbenam sekaligus matahari terbit,” ujarnya. (pas)
Sumber : Radar

Wisata Baru Nganjuk, Air Terjun Sumbermanik Ditemukan

0
Air terjun Sumber Manik yang tampak masih alami. foto: soewandito/ BANGSAONLINE
Air terjun Sumber Manik yang tampak masih alami.  
Tak sulit untuk menuju Desa Blongko, Kecamatan Ngetos. Dari Kecamatan Ngetos, jarak tempuh ke sana memakan waktu sekitar 45. Desa yang terletak paling dekat dengan lereng Gunung Wilis ini bersebelahan dengan Desa Klodan.
Seperti desa lain yang ada di lereng gunung, wilayah mayoritas Desa Blongko berwujud perbukitan hutan pinus dengan sungai dan jurang di beberapa sisi. Di kedalaman hutan desa inilah, letak Air Terjun Sumbermanik yang menghebohkan warga setempat sejak awal Januari lalu.
Meski mayoritas daerahnya berupa perbukitan, tak sulit untuk menuju ke Desa Blongko. Sebab, hampir seluruh wilayah desa ini sudah diaspal. “Perjalanan awal relatif lancar, karena aspal di Ngetos sekarang sudah halus,” kata Edi Winarto, 55, warga Desa Blongko yang ikut merintis akses menuju lokasi Air Terjun Sumbermanik.
Begitu tiba di Desa Blongko, rute selanjutnya akan terasa lebih menantang. Sebab, akses menuju air terjun diwarnai dengan jalan aspal yang mulai rusak. Saat wartawan koran ini menelusuri rute menuju Air Terjun Sumbermanik, tantangan mulai terasa selepas melewati jalan beraspal rusak sepanjang sekitar satu kilometer.
Dari sana, akses menuju air terjun adalah jalan terjal berbatu selebar sekitar dua meter dengan kondisi menanjak. Sehingga, pengendara sepeda motor rawan terjatuh atau tergelincir jika belum terbiasa dengan medan sekitar.
Begitu sukses melahap medan berbahaya, kita masih harus menguras fisik menuju air terjun setinggi 35 meter itu dengan berjalan kaki untuk menempuh jarak sekitar 500 meter.
Perjalanan selama sekitar 30 menit tak begitu terasa karena pemandangan indah di sekelilingnya. Di sepanjang jalan banyak ditemui pemandangan pohon kepala setinggi lebih dari 10 meter. Belum lagi, kebun durian hingga hamparan tanaman padi yang menghijau. “Yang membuat agak enteng, karena jalan kakinya menurun sampai ke lokasi air terjun, tidak naik,” urai Edi yang Minggu (24/1) lalu bersama Jawa Pos Radar Nganjuk menuju air terjun Sumbermanik.
Rute selanjutnya tak kalah menarik. Setelah melewati hamparan tanaman padi, kita harus melewati jalan setapak dan melintas sungai kering sebelum menemukan sungai berbatu dengan aliran cukup deras yang oleh warga disebut Sungai Mundeng. Keberadaan sungai ini sekaligus jadi penanda jika air terjun sudah semakin dekat.
Dari kejauhan terlihat buih air memutih yang mengucur dari ketinggian. Semakin dekat, tak hanya keindahan alamnya yang semakin nyata. Gemericik air juga mampu memecah penat setelah berjalan kaki selama puluhan menit. “Petani warga sini dari dulu sudah sering lihat, tapi dikiranya cuma grojogan kecil,” lanjut Edi sambil menunjuk air terjun di depannya.
Kecantikan Air Terjun Sumbermanik semakin jelas terlihat dari jarak dekat. Air terjun yang ada di lereng bukit Punjul, Gunung Wilis ini berbeda dengan air terjun kebanyakan. Lebar aliran airnya sekitar 20 meter. Sehingga, saat dilihat dari dekat seolah air menyelimuti bukit batu nan indah itu.
Dengan karakternya yang unik ini, Air Terjun Sumbermanik seolah menjadi perpaduan antara Air Terjun Sedudo dengan Air Merambat Roro Kuning. Sebab, dari atas air seolah terlihat merambat di bebatuan. Kemudian, air yang terkumpul di cekungan itu terjun ke bawah dengan suara yang kencang seperti halnya air terjun Sedudo.
Keindahan Air Terjun Sumbermanik itu tak dilewatkan oleh belasan muda-mudi yang siang itu berada di sana. Selain berendam dan bermain air, mereka juga mengabadikan keindahan Sumbermanik dengan berfoto bersama.
Mengapa namanya Sumbermanik? Edi mengatakan, nama itu muncul begitu saja. Sejak zaman kakek dan neneknya, kawasan hutan setempat sudah disebut dengan nama Sendang Sumbermanik.
Konon, di atas air terjun itu ada sebuah embung alami atau sendang tempat pertapaan Damarwulan, tokoh legenda pada kerajaan Mapajahit. “Jadi merujuk pada sejarah itu,” bebernya.
Keberadaan Air Terjun Sumbermanik yang semakin dikenal luas membuat pengunjung terus bertambah. Pemuda setempat pun memanfaatkan gubuk-gubuk kecil di hutan untuk tempat parkir. Khusus hari libur, air terjun yang biasanya sepi itu bisa dikunjungi hingga 100 orang. “Bahkan ada yang dari Malang dan Surabaya,” katanya. (ut)
Sumber : Radar

AIR TERJUN SEDUDO NGANJUK

0

Nama Wisata : Air Terjun Sedudo

Lokasi : Desa Ngliman Kecamatan Sawahan

Jarak dari kota Nganjuk : 32 km

Akomodasi : Ada

Transportasi : Mini bus

Keterangan : Air terjun Sedudo terletak di Desa Ngliman Kec. Sawahan. Jaraknya sekitar 30 km arah selatan Ibu Kota Kab. Nganjuk. Udaranya bersih dan sejuk. Terletak pada ketinggian 1438 m dpl. Ketinggian iar terjun ini sekitar 105 meter. Masyarakat setempat masih mempercayai, air terjun in memiliki kekuatan supra natural. Lokasi wisata alam ini ramai dikunjungi orang pada setiap Bulan Syuro. Konon mitos yang ada sejak jaman Mojopahit, pada bulan itu dipercaya membawa berkah awet muda bagi orang yang mandi di air terjun tersebut. Sebab pada bulan itulah, air terjun Sedudo dipergunakan untuk upacara ritual yaiu memandikan arca dalam upacara Parna Prahista, yang kemudian sisa airnya dipercikan untuk keluarga agar mendapat berkah keselamatan dan awet muda. Hingga sekarang pihak Permkab Nganjuk secara rutin melaksanakan acara ritual mandi Sedudo setiap bulan Syuro. Bagi pengunjung sudah disediakan fasilitas ruang ganti pakaian, kamar mandi /wc , tempat penjualan makanan . pakaian, buah-buahan dan souvenir.