Showing posts with label Nganjuk. Show all posts
Showing posts with label Nganjuk. Show all posts

Wisata baru Nganjuk - Taman Pandan Wilis

0
Wisata Baru Nganjuk  – Sejak Kamis lalu (14/1), masyarakat di sekitar Kelurahan Werungotok, Kecamatan Nganjuk punya hiburan baru. Setiap sore ratusan orang berbondong-bondong memadati wahana hiburan baru berupa taman kota, tepatnya di tepi Jalan Raya Werungotok – Ngrengket, yang diberi nama Taman Pandan Wilis. Identitasnya pun sudah tampak dari kejauhan, karena terdapat ornamen tulisan nama raksasa ‘Taman Pandan Wilis’, yang bercat hijau terang sepanjang sekitar 10 meter tepat di pintu masuk menuju lokasi taman.
Pantauan koran ini sore kemarin sekitar pukul 16.00, ratusan pengunjung bahkan sudah berjubel mulai dari halaman pintu masuk sampai ke area dalam yang berupa unit-unit fasilitas taman mulai dari wahana air mancur, taman bunga hingga monumen utama yang dikelilingi kolam dangkal dan bertepi landai. Salah satu yang menjadi favorit pengunjung terutama anak-anak remaja adalah bangunan orneman nama ‘Taman Pandan Wilis’ itu sendiri, yang dijadikan background foto selfie. “Langsung saya upload ke Instagram, pamer ke teman-teman di Surabaya,” kata Nurdiana, 22, mahasiswi asal Desa Ngrengket, Kecamatan Sukomoro yang hari itu kebetulan sedang liburan.
Dia sendiri mengaku penasaran untuk datang ke taman setempat, setelah mengetahui informasi awal dari beredarnya foto-foto taman bernuansa hijau bertuliskan ‘Taman Pandan Wilis,’ yang disebut oleh para pengunggahnya berlokasi di Nganjuk. Konsepnya menurut Nurdiana mirip dengan tulisan ornamen Pantai Losari di Makassar atau Taman Bungkul di Kota Surabaya. “Saya cepat-cepat ingin tahu dong. Malu kalau ditanya nggak tahu lokasinya,” seloroh Nurdiana.
Kawasan setempat kemarin tidak hanya dipadati oleh anak-anak. Pengunjung keluarga yang membawa anak-anak kecil pun tak kalah banyak. Akibatnya, terjadi penumpukan kendaraan terutama sepeda motor di pintu masuk menuju taman, hingga menyebabkan arus lalu-lintas di jalan raya setempat agak tersendat. Beberapa pemuda kampung pun secara spontan membuka jasa parkir sambil menata agar kendaraan tidak meluber ke jalan-jalan dan menhindari aksi pencurian. Mereka pun mendapatkan keuntungan yang cukup lumayan. “Baru tiga hari ini dibuka, tapi sudah ramai sekali,” ujar Sadi, 30, salah satu pemuda setempat yang ikut menjaga kendaraan bermotor milik pengunjung.

Terpisah Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Nganjuk Bambang Eko Suharto mengatakan, Taman Pandan Wilis sebenarnya adalah bagian dari program pengembangan kota hijau (P2KH) yang anggarannya menggunakan dana alokasi khusus (DAK), dan dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum (PU) Cipta Karya dan Tata Ruang (CKTR) Nganjuk. Nama Pandan Wilis sendiri diambil dari Gunung Wilis yang menjadi ikon Kabupaten Nganjuk. “Saya sendiri baru tahu kalau respons masyarakat sudah sebesar ini, padahal belum resmi dibuka,” ujar Bambang.
Terkait pemilihan lokasi taman dan penambahan ornamen tulisan raksasa berbunyi ‘Taman Pandan Wilis’, menurut Bambang bisa membuat taman setempat menjadi landmark atau bangunan ikon Nganjuk yang baru. Antara lain karena keberadaannya sudah bisa terlihat dari jarak jauh. Termasuk nanti ketika jalur tol Surabaya-Solo sudah tuntas dan rencananya akan menempatkan gerbang interchange atau jalur keluar-masuk tol di Desa Ngrengket dengan jarak kurang dari 1 kilometer di utara Taman Pandan Wilis. “Orang dari luar kota yang masuk kota Nganjuk, akan langsung disuguhi pemandangan Taman Pandan Wilis,” pungkas Bambang. (pas/die)

Embung Estumulyo, Destinasi Wisata Baru Di Nganjuk

0
Embung Estumulyo, Destinasi Wisata Baru Di Nganjuk. Assalamualaikum trip-er, melanjutkan NGEtrip kemarin masih dari Kota Nganjuk (Baca : Air Terjun SingoKromo, Air Terjun Yang Masih Alami Di Nganjuk). Kali ini tempat wisata yang kita bahas adalah Embung Estumulyo. Sekedar info saja embung adalah cekungan yang digunakan untuk mengatur dan menampung suplai aliran air hujan serta untuk meningkatkan kualitas air di badan air yang terkait (sungai, danau). Embung digunakan untuk menjaga kualitas air tanah, mencegah banjir, estetika, hingga pengairan. Embung menampung air hujan di musim hujan dan lalu digunakan petani untuk mengairi lahan di musim kemarau.

Embung Estumulyo sendiri terletak di Desa Bulurejo, kecamatan Sawahan, kira-kira 25 kilometer dari tengah kota Nganjuk. Kecamatan Sawahan sendiri merupakan daerah pegunungan sehingga hawa di sana sangat sejuk. Rute untuk menuju Embung Estumulyo Nganjuk adalah  Dari alun-alun Nganjuk, lurus saja melewati jalan A Yani, sampai menemui Adipura Loceret, lalu belok kanan. Sampai ke kecamatan Berbek. Lalu belok kiri lurus aja naik gunung. Sampai Pasar Sawahan lurus terus. Beloklah ke kanan kalau sudah melewati pertigaan Hotel Sanggrahan. Lurus saja sampai menemui pertigaan. Belok kiri. Lurus sampai pertigaan lagi, belok kanan. Ikuti jalan sampai ke lokasi. Jalan menuju Embung Estumulyo ini sebagian besar sudah diaspal sehingga mudah untuk dilalui baik kendaraan roda dua maupun kendaraan roda empat.

Karena Embung Estumulyo ini bukan merupakan tempat yang belum banyak dikenal orang dan belum dikelola sebagai tempat wisata, maka untuk masuk ke Embung Estumulyo ini tidak ada retribusi alias gratis. Walaupun gratis Embung Estumulyo mampu memberikan pemandangan yang sangat memukau, tak kalah dengan tempat-tempat wisata lain.

Di Embung Estumulyo ini juga terdapat perahu getek (perahu dari bambu), jadi apabila Anda menemui perahu ini Anda bisa berfoto-foto ria dengan background pemandangan yang keren. Di sini kita juga akan menjumpai beberapa warga yang sedang memancing seperti di bendungan-bendungan lain.

Bila Anda berkunjung ke Kota Nganjuk, luangkan waktu untuk Ngetrip ke Embung Estumulyo ini ya. Sekian review singkat tentang Embung Estumulyo di Nganjuk. Mari Ngetrip dan terus lestarikan keindahan alam dan wisata Indonesia.
sumber : maringetrip

Air terjun tiga tingkat, Air tejun ngebeleng Jatikalen Nganjuk

0

Kabupaten Nganjuk merupakan nama salah satu kabupaten yang berada di provinsi Jawa Timur, daerah ini memiliki luas 122.433 Ha yang terdiri dari dataran dan pegunungan. Dengan kondisi wilayah tersebut, tempat wisata di Nganjuk memang lebih banyak wisata alam meskipun ada juga tempat wisata yang lain. Berikut adalah tempat wisata di Nganjuk untuk anda kunjungi.

Air tejun ngebeleng adalah salah satu objek wisata yang anyar daerah Nganjuk, terletak di Dusun Tondowesi Desa Pule, Kecamatan Jatikalen Kabupaten Nganjuk. Air terjun anyar ini mulai populer di tahun 2014,  karena memiliki bentuk unik, dalam waktu beberapa bulan saja sudah banyak pengunjung yang datang kesini, walaupun belum secara resmi dibuka sebagai tempat wisata oleh pemerintah.

ada 2 jalur menuju ke Air Terjun Ngebleng :
1. Dari Jombang kota - Plandaan - Balai Desa Lumpang Kuwik(masuk wilayah nganjuk) - Desa Cekel - Desa Lengkong Geneng (Ada  Jembatan belok Kiri) - Dusun Tondowesi Lor/Utara(Ndosie) cari rumahnya P.Amin RT.04 RW. 9 No.79, sebelah lapangan foli/Lapangan gembala sapi, buat parkir sepeda motor.
2. Dari Jombang kota - Plandaan (Sebelahnya polsek plandaan ada pertigaan belok kanan arah ke Kedung Cinet ) - Tanggugan( Balai desa pojok klitih ) - Balai Desa Pule - Sekolahan sdn Pule belok kanan-ndusun Putuk - Dusun Klitih - Dusun Tondowesi Lor/Utara(Ndosie) Ndosie cari rumahnya P.Amin RT.04 RW. 9 No.79, sebelah lapangan foli/Lapangan gembala sapi, buat parkir sepeda motor.

Air Terjun Ngebleng masih alami dan belum di kelola oleh daerah setempat, belum ada karcis masuk, parkir di rumah warga seiklasnya. Untuk menuju air terjun jalan kaki ± 2 km/ 1 jam an dari rumah warga, kalau musim kemarau sepeda motor bisa langsung ke air terjunnya. pas musim penghujan debit airnya lumayan deras, kalau musim kemarau airnya surut/sedikit.


 Jalan menuju air terjun ini sangatlah melelahkan menurut saya sendiri, padahal saya sendiri adalah penduduk asli nganjuk. Karena kita harus masuk ke pelosok pelosok desa, dan kemudian meninggalkan kendaraan, lalu masuk ke hutan untuk menuju ke tempat air terjun, berjalan sejauh 3 kilometer, namun rasa lelah akan hilang ketika anda melihat keunikan air terjun ngebleng ini yang sangat benar-benar unik. Air terjun ini mempunyai 3 tingkatan, dengan ketingian sekitar 12 meter dari bawah. jika anda berkunjung ke kota nganjuk jangan lupa untuk datang ke wisata yang satu ini. Ada juga wisata Air terjun  yang tidak kalah uniknya, adalah Air Serjun Sedudo. Nah jika anda penasaran datang saja ke kabupaten Nganjuk


Sejarah Dan Mitos Wisata Air Terjun Sedudo

0
Sejarah Dan Mitos Wisata Air Terjun Sedudo Di Nganjuk Jawa Timur - Jawa Timur memang memiliki alam yang elok, sehingga banyak wisata alam disini. Salah satunya adalah air terjun Sedudo yang berada di Kaki Gunung Wilis. Air terjun ini memiliki ketinggian sekitar 105 meter yang dibalut dengan bebatuan dan alam yang masih asri di sekitarnya. Selain menawarkan panorama alam yang mempesona dengan hawa sejuknya, Air terjun Sedudo ternyata menyimpan sebuah mitos yang hingga kini masih dipercaya oleh masyarakat setempat. Konon jika ada seseorang yang mandi dikolam yang ada di bawah air terjun ini akan mendapatkan berkah, awet muda, naik pangkat dan bisa disembuhkan dari penyakit yang dideritanya.


Mitos Air Terjun Sedudo
Mau percaya atau tidak itu hak sobat masing-masing, namun yang jelas ketika bulan sura datang ribuan warga yang berasal dari berbagai daerah berdatangan untuk mandi disini. Tak hanya dari kalangan masyarakat saja, dari kalangan elite politik juga tak jarang ditemui tengah berendam di kolam bahkan sampai tengah malam. Hal ini dibenarkan oleh Lies Nurhayati, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Nganjuk. Menurutnya banyak para pejabat nega yang mandi di bawah air terjun saat tengah malam. Wisata Air Terjun Sedudo memang menjadi "primadona" bagi warga Nganjuk dan sekitarnya baik dijadikan obyek wisata atau untuk ritual. Tak hanya di bulan Sura saja, ketika malam jumat kliwon tak sedikit pengunjung yang datang untuk mandi di air terjun ini.
Sejarah Air Terjun Sedudo
Dibalik keindahannya, Air terjun sedudo ternyata memiliki sejarah panjang. Pada jama Kerajaan Majapahit, air terjun ini sering digunakan untuk mencuci senajata milik Raja Majapahit dan patung yang digunakan upacara Prana Prathista. Konon Gajah Mada pernah menggembleng prajuritnya di lokasi air terjun sedudo. Selang beberapa tahun kemudian ketika Kerajaan islam mulai berkembang, Air Terjun Sedudo pernah digunakan sebagai tempat pertamaan Ki Ageng Ngaliman yakni seorang penyebar agama islam di daerah Nganjuk. Oleh karena itu setiap bulan sura selalu digelar ritual mandi sedudo yang diawali dengan tarian oleh enam penari perawan berambut panjang. 
Air Terjun Sedudo Menjadi Obyek Wisata Andalan Kabupaten Nganjuk
Terlepas dari sejarah dan mitos Air Terjun Sedudo, obyek wisata ini memang menawarkan panorama yang indah. Bahkan wisata air terjun sedudo dijadikan ikon Kabupaten Nganjuk. Berada di daerah dengan ketinggian sekitar 1438 meter diatas permukaan air laut, membuat udara disini begitu sejuk. Menikmati panorama alam yang masih asri serta tiupan angin pegunungan yang sejuk, membuat para wisatawan betah berlama-lama disini. Kendati demikian wisatawan diharapkan tetap berhati-hati, pasalnya saat cuaca buruk sering terjadi angin kencang dan hujan deras yang mengakibatkan tanah longsor dan banjir. 
Sebagai Obyek wisata andalah Kabupaten Nganjuk, tentu saja fasilitas disini memadai. Di lokasi wisata Air Terjun Sedudo terdapat tempat parkir yang luas, area permainan , warung makan dan kios souvenir di beberapa titik, kamar mandi, kolam dan sebagainya. Kendati demikian pihak pengelola merasa kesulitan untuk mengembangkan lebih jauh lantaran struktur tanah disini mudah longsor. Untuk menuju lokasi air terjun sedudo, sobat bisa menggunakan kendaraan roda dua ataupun roda empat. Jika dari ibu kota Nganjuk atau dari Pendapa Kabupaten Nganjuk lokasinya masih berjarak sekitar 30 Km arah selatan.

1 Pengendara Motor Ninja 250FI Hadang BUS Restu Panda Yang Melawan Arus di Kertosono – Kediri

0
Postingan #SnapNShare e100 mengenai aksi pengendara motor Kawasaki Ninja yang menghadang bus Restu melawan arus lalu lintas ramai dibicarakan di dunia maya, Sabtu (6/2/2016).
Bahkan hingga Sabtu pukul 17.45 WIB, #SnapNShare telah dibagikan sebanyak 2.336 kali, disukai 9.561 pengguna Facebook dan dikomentari sebanyak 1.288 kali.

Sonny Kurniawan, netter e100 mengatakan, foto yang menjadi viral tersebut diambil di Jalan PB Sudirman, Kertosono, sebelum palang kereta api, sekitar pukul 09.00 WIB.

"Ada tiga lajur di jalan ini. Satu lajur ke arah Kediri dan dua lajur ke arah Kertosono. Bus yang mengarah ke Kediri ini melawan arus. Bus akhirnya mundur dan kembali ke lajurnya karena tidak bisa bergerak maju," kata Sonny menjelaskan kejadian tersebut.

Sonny menambahkan, saat itu dirinya sedang berhenti karena menunggu kereta lewat. "Saya lihat ke arah kanan, wah kok ada hal menarik ini. Lalu saya foto dan kirimkan ke e100," katanya kepada Radio Suara Surabaya.
Netter memberikan berbagai komentar, ada yang mendukung, ada pula yang menyayangkan kenekatan pengendara motor yang belum diketahui identitasnya tersebut

Salah satunya komentar akun Umi Kalsum, "Bis memang ngawur, dulu pernah hampir jatuh gara2 ada bis nyalip kencang g lihat2, sampai keluar kejalan pasir."

Akun AR Fira Scci Gapc menanggapi, "seng gawe ninja iku wes bener ta.soale meneng nang jalur R4 &gk onok plat nomer+spion di tekuk."
Kemudian akun Koko Zacharia menulis, "sdh jgn saling mencari pembenaran,, utk pengendara motor redam emosi,anda mgkn "sdh benar" tp anda jg tdk syang nyawa anda serta tdk safety riding"spion di tekuk" .. utk crew bus,slow aja mas ngeblong ad waktunya,, tp suatu misal bis itu ngeblong,hbis tuh motor "prinsip supir bis= mending 1 nyawa melayang dr pd 60 nyawa melayang" jd ngk usah sok arogan utk pengendara motor n crew bus... jaga emosi n arogansi di jlan..."

Sementara itu, selain menjadi viral di media sosial, postingan #SnapNShare e100 mengenai aksi pengendara motor ini juga ditulis beberapa media online nasional. (iss/fik)

Teks Foto:
-. Aksi pengendara sepeda motor Kawasaki Ninja yang menghadang bus Restu.
Foto: Sonny Kurniawan, Wahyu Fitri dan Yony Trisno Adianto via e100
Sumber : Suarasurabaya

Sentra Perajin Batu Bata di Desa Kaloran Kecamatan Ngronggot Nganjuk

0
Masuk Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot di musim penghujan seperti sekarang, mirip seperti melewati sirkuit offroad. Jalannya memang sudah diaspal, namun banyak yang rusak dan bergelombang. Cekungan dan lubang-lubang pun akhirnya digenangi air.
Beberapa titik sudah lebih tinggi dari mata kaki. Jalan pun tak terlihat. Sehingga, para pengendara motor atau sepeda pun harus ekstra hati-hati jika tak ingin terpeleset di genangan air.
Kondisi ini semakin diperparah dengan keberadaan gundukan tanah di kanan-kiri jalan. Saat terkena air hujan, tanah-tanah tersebut masuk ke jalan dan genangan hingga membuat jalan di desa yang terletak di perbatasan Ngronggot-Tanjunganom ini berlumpur.
Gundukan tanah yang terkesan ‘mengotori’ jalan saat musim hujan itu diletakkan di sana bukannya tanpa maksud. Dibalik gundukan tanah itu terlihat banyak laki-laki dan perempuan yang beraktivitas.
Aktivitas warga ini pula yang membuat desa itu semakin dikenal. Selain di sawah, warga Desa Kaloran memang punya pekerjaan alternatif sejak berpuluh-puluh tahun lalu.Turun-temurun ke beberapa generasi.
Ya, pekerjaan itu tak lain adalah membuat kerajinan batu bata. “Awalnya genteng. Tapi dari hari ke hari tanahnya jelek. Jadi, pindah ke batu bata sejak tahun 1990-an lalu,” kata Jumiatun, salah satu warga desa setempat.
Ratusan warga di empat dusun, mulai dari Dusun Kaloran, Dusun Nanggungan, Dusun Bulakmiri dan Dusun Barengan, memang menekuni pekerjaan sebagai pembuat batu bata. Sebagian masih mempertahankan pembuatan genting meski jumlahnya tak lagi banyak.
Perempuan berusia 55 tahun itu pun mengaku belajar membuat batu bata secara turun-temurun dari kakek-neneknya. Berpuluh-puluh tahun silam, tanah di desa setempat memang dianggap yang paling baik. Sehingga, genting atau batu bata yang dihasilkan pun kuat. “Dari mbah-mbah sudah ada,” lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, banyak tanah yang dikeruk semakin dalam. Lapisan tanah yang paling bawah pun akhirnya diketahui kurang bagus dipakai membuat barang yang banyak dibutuhkan untuk pembangunan rumah itu. “Jadi kurang kuat. Makanya pindah ke batu bata yang tanahnya masih cocok,” urainya.
Karena alasan kualitas itu, warga sekitar kini jarang yang memakai tanah lokal. Hampir semua perajin memilih ‘mengimpor’ tanah dari tetangganya. Termasuk dari Desa Trayang yang terletak di sebelah timur desa.
Langkah sejumlah perajin ini diambil bukan hanya karena kualitas tanah setempat yang tak lagi bagus. Melainkan karena lahan-lahan pemukiman di Desa Kaloran yang makin padat.
Sehingga, mereka kesulitan mencari tanah. Padahal, pesanan yang datang ke mereka selalu banyak. “Makanya tanahnya sampai didatangkan dari luar,” sambung Samirah, 56, warga lainnya.
Berapa omset mereka? Rupanya cukup banyak. Setiap bulan, satu perajin dengan dua atau tiga pekerja cetak ini bisa mendatangkan tanah bahan batu bata sekitar tiga rit.
Tanah tersebut akan diolah menjadi sekitar 10 ribu – 15 ribu batu bata. Dengan jumlah sebanyak itu, pekerjaan baru bisa selesai dalam satu bulan. “Sehari paling 500 bata. Makanya, nyari tanahnya bulanan. Sebulan sekali baru cari lagi,” lanjut kakek dua cucu ini sembari memindahkan batu-bata ke tungku pembakaran.
Penghasilan para perajin ini cukup lumayan. Tiap bulan, mereka bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Keuntungan itu sudah dikurangi kebutuhan produksi batu bata.
Mulai kebutuhan beli tanah lagi, beli kayu bakar, hingga kebutuhan produksi lainnya. Khusus musim hujan seperti sekarang, biasanya perajin menaikkan harga jual batu bata mereka. Dengan model dan bentuk yang sama, setidaknya jika di musim biasa dihargai Rp 5 juta, saat penghujan seperti ini harganya bisa naik jadi Rp 5,5 juta hingga Rp 6 juta.
Kenaikan harga ini bukannya tanpa alasan. Karena panas matahari tak banyak, pengeringan batu bata usai dicetak memakan waktu dua kali lipat lebih lama. Selama musim hujan, pengeringan batu bata bisa memakan waktu seminggu penuh. Padahal, jika kemarau batu bata bisa kering dalam tiga hari setelah cetak. “Ya repotnya dipengeringan, bisa sampai 6 – 7 hari kalau hujan,” terangnya.
Karena usaha yang ditekuni selama bertahun-tahun dan turun-temurun, para perajin seolah memiliki pasar masing-masing. Sumirah pun biasa menjual batu bata buatannya ke berbagai daerah.
Selain di lokal Nganjuk, beberapa daerah sekitar seperti Jombang, Bojonegoro, hingga Lamongan pun banyak yang pesan di Nganjuk. “Yang paling banyak dari Lamongan kalau sini,” tuturnya.
Uniknya, meski memiliki ciri khas sendiri-sendiri, hampir semua produk batu bata di sana memiliki kualitas yang setara. Hal itulah yang membuat pembeli berdatangan.
Warga pun tak mau mengecewakan pelanggan. Makanya, mereka memilih berkorban waktu lebih lama untuk pengeringan dan pembakaran, daripada menghasilkan produk yang jelek. “Orang-orang sudah percaya. Makanya batanya terus dijaga bisa selalu bagus,” tandasnya. (ut)
Sumber : Radar

Menikmati Sunset di Puncak Bukit Songgong Sawahan Nganjuk

0
SAWAHAN – Destinasi wisata alternatif di Nganjuk makin banyak saja. Yang terbaru, setelah wahana arung jeram menggunakan ban karet di Sungai Petungulung, Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan, kali ini giliran wisata bertema pemandangan alam di puncak Bukit Songgong, salah satu dari deretan perbukitan yang ada di lereng utara Gunung Wilis.
Secara geografis lokasinya juga masih termasuk wilayah Desa Margopatut, Kecamatan Sawahan, tepatnya di perbatasan Dusun Ngroto dan Dusun Sumber Tumpeng. Kebanyakan pengunjung yang datang ingin menikmati matahari terbenam (sunset) sembari berfoto ria bersama teman dan keluarga.
Keberadaan lokasi ini ramai diperbincangkan orang seminggu terakhir. Berawal dari informasi mulut ke mulut, dengan cepat kabar dan foto-foto gambaran lokasinya menyebar luas di situs jejaring sosial seperti facebook (FB), twitter hingga instagram. Sampai kemarin, sudah ribuan orang yang kebanyakan anak-anak muda sudah mengunjungi lokasi ini, lantaran bentuknya yang unik. Yakni berupa taman luas di puncak bukit yang tersusun dari ratusan batuan runcing. “Yang banyak malah dari luar kota. Dari Malang, Madiun, Surabaya,” ujar Mali, 35, pemuda desa setempat yang setiap hari ikut mengelola lokasi wisata baru tersebut.
Mali mengakui rasa penasaran orang yang tinggi dipicu oleh penampakan bentuknya yang berupa tatanan batu-batu besar berbentuk runcing menyerupai bentuk nasi tumpeng. Tidak jarang pengunjung dari luar kota yang diantar oleh Mali menuju lokasi, awalnya mengira tempat itu adalah situs prasejarah sejenis candi, seperti yang ada di situs megalitikum Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat. “Ini taman baru dibuat, sebelumnya hutan lebat,” kata Mali.
Pembangunan taman itu memakan waktu sembilan bulan sejak Januari 2015 lalu. Sang perancang sekaligus pembuat taman tersebut, Kasnoto, 60, pria asal Desa Sidorejo, Kecamatan Sawahan, mengerjakan sebagian besar ‘proyek’-nya itu sendiri dan sisanya dibantu oleh warga dan pemuda desa setempat termasuk Mali. Pembangunan dilakukan di atas lahan puncak bukit seluas sekitar 1 hektare, dengan mengambil bahan baku batu endemik berbentuk runcing yang sangat melimpah di permukaan tanah seluruh kawasan bukit, mulai bawah sampai puncak. Dia juga sengaja dipilih lokasi dengan pemandangan lembah dan deretan perbukitan Wilis yang paling indah. “Dan ternyata benar-benar ada yang suka dan memuji,” ucap Mali lagi.
Sore kemarin, Jawa Pos Radar Nganjuk melihat sendiri begitu ramainya lokasi taman Bukit Songgong. Puluhan orang yang kebanyakan anak muda asyik berfoto ria dengan gaya selfie menggunakan ponsel, maupun para fotografer dari berbagai kota yang datang dengan peralatan kamera prosfesional. Sisanya, adalah pengunjung keluarga yang membawa serta anak-anak kecil. “Sempat ada ide mau ditiketkan, tapi saya larang. Biar sementara orang-orang bebas menikmati pemandangan di sini,” lanjut Mali.
Roby, 21, salah satu pengunjung asal Caruban, Madiun sore kemarin tampak betah berlama-lama di lokasi, bersama rombongan teman sebayanya sampai hari gelap. Niat awalnya datang sore kemarin selain melihat taman batu yang eksotis, karena ingin menikmati pemandangan matahari terbenam di balik lembah sisi timur bukit. Namun karena langit dan matahari sore kemarin terututup awan, dia akhirnya memutuskan untuk lebih lama berada di Nganjuk sambil menunggu matahari terbit di sudut lain, di sisi barat Bukit Songgong pagi harinya. “Ini yang saya suka, bisa lihat matahari terbenam sekaligus matahari terbit,” ujarnya. (pas)
Sumber : Radar

Melirik Batik asal Ngetos Kabupaten Nganjuk

0
NGETOS – Di Desa/Kecamatan Ngetos, sebuah perkampungan yang terletak di lereng Gunung Wilis, terdapat kelompok anak-anak muda yang rutin berkumpul setiap hari. Meskipun tempat tinggal mereka jauh dari hiruk-pikuk kota, namun mereka tetap aktif meng-update informasi dan pengetahuan. Salah satunya informasi bahwa lembaga PBB bernama United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), telah menetapkan batik sebagai budaya asli Indonesia. Karena itulah, belakangan mereka terinsiprasi untuk merintis dan mengembangkan kreasi batik tulis khas wilayah mereka sendiri.
Belasan anak-anak muda usia 17-25 tahun itu kebetulan memiliki keahlian, yang kebanyakan orang tidak memilikinya. Ada yang pernah belajar dari orangtua dan neneknya, ada pula yang mendapat ilmu dan teknis membatik dari pengasuh senior di kelompok kumpulan mereka. Setidaknya sudah dua tahun terakhir, mereka merintis usaha yang kini sudah punya workshop di rumah pengasuh mereka, Aries Trio Effendi, 35.”Ini sebenarnya warisan turun temurun dari nenek moyang. Tapi sekarang sudah jarang anak muda yang mewarisinya,” kata Aries, menceritakan awal mula dirintisnya usaha kerajinan batik tersebut.
Didorong semangat ingin mengangkat dan melestarikan budaya tradisional itulah, Aries pun memilih untuk mengembangkan kerajinan batik khusus batik tulis, yang kemudian diajakan secara cuma-cuma kepada anak-anak muda di desanya. Sampai berjalan sekitar dua tahun ini, sudah ada belasan anak muda setempat yang mulai mahir menorehkan lukisan corak batik pada lembaran-lembaran kain di tempat workshop mereka, yang merangkap rumah milik Aries sendiri. “Sudah sering diikutkan pameran di luar kota,” sambung Aries.
Sebagian peralatan membatik didapatkan Aries dan warisan kerabat dan orang-orang tua di desanya, yang pada zaman dahulu sebenarnya sudah pernah memulai kerajinan tersebut. Namun kini, untuk memancing minat anak-anak muda, Aries sedikit memodifikasi pakem corak batik dengan memasukkan warna-warna cerah pelangi. Sementara bentuknya masih tetap mengadopsi corak batik Nganjuk yakni keanekaragaman hayati di hutan Gunung Wilis seperti daun-daunan, pohon hingga beberapa satwa endemik di hutan setempat.
Begitu pula denga corak khas prasasti Anjuk Ladang, sebagai ikon utama Kabupatan Nganjuk. “Sering juga anak-anak SMA dari rombongan sekolah mampir dan belajar singkat ke sini,” lanjut Aries. Sampai saat ini, Aries mengaku masih betah bertahan melanjutkan kegiatan tersebut, dan bahkan sudah berencana mengadakan pameran terbaru, di samping mulai melayani pesanan perorangan. (pas/die)
Sumber : Radar

Wisata Baru Nganjuk, Air Terjun Sumbermanik Ditemukan

0
Air terjun Sumber Manik yang tampak masih alami. foto: soewandito/ BANGSAONLINE
Air terjun Sumber Manik yang tampak masih alami.  
Tak sulit untuk menuju Desa Blongko, Kecamatan Ngetos. Dari Kecamatan Ngetos, jarak tempuh ke sana memakan waktu sekitar 45. Desa yang terletak paling dekat dengan lereng Gunung Wilis ini bersebelahan dengan Desa Klodan.
Seperti desa lain yang ada di lereng gunung, wilayah mayoritas Desa Blongko berwujud perbukitan hutan pinus dengan sungai dan jurang di beberapa sisi. Di kedalaman hutan desa inilah, letak Air Terjun Sumbermanik yang menghebohkan warga setempat sejak awal Januari lalu.
Meski mayoritas daerahnya berupa perbukitan, tak sulit untuk menuju ke Desa Blongko. Sebab, hampir seluruh wilayah desa ini sudah diaspal. “Perjalanan awal relatif lancar, karena aspal di Ngetos sekarang sudah halus,” kata Edi Winarto, 55, warga Desa Blongko yang ikut merintis akses menuju lokasi Air Terjun Sumbermanik.
Begitu tiba di Desa Blongko, rute selanjutnya akan terasa lebih menantang. Sebab, akses menuju air terjun diwarnai dengan jalan aspal yang mulai rusak. Saat wartawan koran ini menelusuri rute menuju Air Terjun Sumbermanik, tantangan mulai terasa selepas melewati jalan beraspal rusak sepanjang sekitar satu kilometer.
Dari sana, akses menuju air terjun adalah jalan terjal berbatu selebar sekitar dua meter dengan kondisi menanjak. Sehingga, pengendara sepeda motor rawan terjatuh atau tergelincir jika belum terbiasa dengan medan sekitar.
Begitu sukses melahap medan berbahaya, kita masih harus menguras fisik menuju air terjun setinggi 35 meter itu dengan berjalan kaki untuk menempuh jarak sekitar 500 meter.
Perjalanan selama sekitar 30 menit tak begitu terasa karena pemandangan indah di sekelilingnya. Di sepanjang jalan banyak ditemui pemandangan pohon kepala setinggi lebih dari 10 meter. Belum lagi, kebun durian hingga hamparan tanaman padi yang menghijau. “Yang membuat agak enteng, karena jalan kakinya menurun sampai ke lokasi air terjun, tidak naik,” urai Edi yang Minggu (24/1) lalu bersama Jawa Pos Radar Nganjuk menuju air terjun Sumbermanik.
Rute selanjutnya tak kalah menarik. Setelah melewati hamparan tanaman padi, kita harus melewati jalan setapak dan melintas sungai kering sebelum menemukan sungai berbatu dengan aliran cukup deras yang oleh warga disebut Sungai Mundeng. Keberadaan sungai ini sekaligus jadi penanda jika air terjun sudah semakin dekat.
Dari kejauhan terlihat buih air memutih yang mengucur dari ketinggian. Semakin dekat, tak hanya keindahan alamnya yang semakin nyata. Gemericik air juga mampu memecah penat setelah berjalan kaki selama puluhan menit. “Petani warga sini dari dulu sudah sering lihat, tapi dikiranya cuma grojogan kecil,” lanjut Edi sambil menunjuk air terjun di depannya.
Kecantikan Air Terjun Sumbermanik semakin jelas terlihat dari jarak dekat. Air terjun yang ada di lereng bukit Punjul, Gunung Wilis ini berbeda dengan air terjun kebanyakan. Lebar aliran airnya sekitar 20 meter. Sehingga, saat dilihat dari dekat seolah air menyelimuti bukit batu nan indah itu.
Dengan karakternya yang unik ini, Air Terjun Sumbermanik seolah menjadi perpaduan antara Air Terjun Sedudo dengan Air Merambat Roro Kuning. Sebab, dari atas air seolah terlihat merambat di bebatuan. Kemudian, air yang terkumpul di cekungan itu terjun ke bawah dengan suara yang kencang seperti halnya air terjun Sedudo.
Keindahan Air Terjun Sumbermanik itu tak dilewatkan oleh belasan muda-mudi yang siang itu berada di sana. Selain berendam dan bermain air, mereka juga mengabadikan keindahan Sumbermanik dengan berfoto bersama.
Mengapa namanya Sumbermanik? Edi mengatakan, nama itu muncul begitu saja. Sejak zaman kakek dan neneknya, kawasan hutan setempat sudah disebut dengan nama Sendang Sumbermanik.
Konon, di atas air terjun itu ada sebuah embung alami atau sendang tempat pertapaan Damarwulan, tokoh legenda pada kerajaan Mapajahit. “Jadi merujuk pada sejarah itu,” bebernya.
Keberadaan Air Terjun Sumbermanik yang semakin dikenal luas membuat pengunjung terus bertambah. Pemuda setempat pun memanfaatkan gubuk-gubuk kecil di hutan untuk tempat parkir. Khusus hari libur, air terjun yang biasanya sepi itu bisa dikunjungi hingga 100 orang. “Bahkan ada yang dari Malang dan Surabaya,” katanya. (ut)
Sumber : Radar

Wayang timplong Nyampe Jakarta


Jakarta, Sinar Harapan
Setelah satu dasawarsa vakum menyelenggarakan kegiatan, Bina Musika kembali hadir dengan menggelar sebuah kolaborasi unik antara permainan piano empat tangan diiringi dengan permainan wayang kulit Jawa klasik. Kolaborasi unik ini rencananya akan dilangsungkan empat kali, mulai tanggal 19, 20, 21 dan 25 Februari 2003, masing-masing di BPK Penabur, Erasmus Huis, Pusat Kesenian Wilayah Jakarta Timur serta Opening Jak@rt Center di Gedung S. Widjojo Center, Jakarta. Kecuali Erasmus Huis, tiga pagelaran lainnya tidak dipungut bayaran.
Konser piano empat tangan ini akan menghadirkan dua pianis asal Indonesia dan Jepang, yaitu Ary Sutedja dan Miwako Fukushi. Sementara dalang yang terpilih untuk pagelaran ini adalah Nanang HaPe, seorang dalang muda lulusan STSI Surakarta. Mereka akan unjuk kebolehan membawakan The Sleeping Beauty karya Tchaikowsky.

Ide awal kolaborasi piano dan wayang ini tercetus dari Miwako, yang mengaku tertarik untuk mengetahui wayang kulit lebih dalam lagi. Selama di Jepang, Miwako yang pernah menimba ilmu di Franz Liszt Academy of Music di Hongaria ini, dikenal sebagai pianis yang kerap menggelar konser piano khusus untuk balita maupun ibu-ibu dengan bantuan siluet ataupun boneka.
”Sejak dulu saya selalu memikirkan ingin menggabungkan dua hal agar menjadi sesuatu yang indah. Setelah menyaksikan pertunjukan wayang kulit, baru timbul ide untuk mengadakan konser ini,” sahut Miwako Fukushi di sela-sela jumpa pers Chamber Music Series Bina Musika bertajuk ”Four Hands Piano Concert berkolaborasi dengan wayang kulit” di Jakarta, Jumat pekan lalu.
Ide Miwako ini kemudian diteruskan kepada sahabat dekatnya, Ary Sutedja yang kebetulan pernah dibesarkan oleh Bina Musika dan melanjutkan sekolahnya di Towson State University di Baltimore, Amerika dan St. Petersburg Conservatory di Rusia. ”Saya senang sekali. Ini adalah genre musik kamar yang unik yang membutuhkan tantangan sekaligus memperlihatkan kreativitas yang tidak ada batasnya, mempertemukan seni barat dengan timur,” kata Ary yang mengaku harus latihan berkali-kali dan bergantian memainkan partitur dari sebelah kiri dan kanan demi mencapai hasil yang terbaik. Untuk memainkan satu piano dengan empat tangan, memang membutuhkan keterampilan dan emosi tersendiri, agar suara yang dihasilkan tak ubahnya seperti dimainkan oleh satu orang saja.
Untuk pagelaran ini, Ary dan Miwako tidak akan memainkan partitur asli The Sleeping Beauty yang dibuat untuk satu orkestrasi lengkap, melainkan akan memainkan versi reduksinya yang sudah digubah oleh pianis Sergei Rachmaninoff, yang sudah mentranskripsi partitur The Sleeping Beauty untuk empat tangan.
Repertoar lainnya yang akan dibawakan secara utuh adalah karya-karya dari Gabriel Forrey, Schubert serta Anton Volzac. The Sleeping Beauty yang aslinya dibuat khusus untuk repertoar ballet klasik, sengaja dipilih berkolaborasi dengan wayang kulit dengan pertimbangan cerita ini sudah banyak dikenal orang, sekaligus memperkenalkan musik klasik khususnya pada anak-anak Indonesia.
Sang dalang, Nanang HaPe, menyambut baik kolaborasi ini. Dalang kelahiran Ponorogo, Jawa Timur yang sudah banyak mengikuti misi kesenian wayang kulit serta pernah melakukan penelitian terhadap kesenian wayang Timplong di Kabupaten Nganjuk ini, menyatakan pakem yang berlaku dalam pagelaran wayang bukanlah hambatan untuk melakukan kreativitas.
”Wayang bisa dijadikan simbol apa pun, termasuk visualisasi dari karya Tchaikowsky. Saya kira tidak ada batasan apa pun, tapi tentu saja untuk pagelaran nanti saya tidak mungkin memakai dialog, jadi hanya main dengan bayangan saja,” sahut Nanang yang akan mengadaptasi karakter-karakter yang ada dalam Sleeping Beauty dengan karakter-karakter yang adalah dalam tokoh pewayangan. Sleeping Beauty misalnya, bisa diwakili melalui Shinta atau Sembrodo ataupun Komaratih. Sementara sosok pangeran yang mencium Sleeping Beauty bisa diwakili melalui Rama ataupun Arjuna.
(din)