Showing posts with label UMKM. Show all posts
Showing posts with label UMKM. Show all posts

Sentra Perajin Batu Bata di Desa Kaloran Kecamatan Ngronggot Nganjuk

0
Masuk Desa Kaloran, Kecamatan Ngronggot di musim penghujan seperti sekarang, mirip seperti melewati sirkuit offroad. Jalannya memang sudah diaspal, namun banyak yang rusak dan bergelombang. Cekungan dan lubang-lubang pun akhirnya digenangi air.
Beberapa titik sudah lebih tinggi dari mata kaki. Jalan pun tak terlihat. Sehingga, para pengendara motor atau sepeda pun harus ekstra hati-hati jika tak ingin terpeleset di genangan air.
Kondisi ini semakin diperparah dengan keberadaan gundukan tanah di kanan-kiri jalan. Saat terkena air hujan, tanah-tanah tersebut masuk ke jalan dan genangan hingga membuat jalan di desa yang terletak di perbatasan Ngronggot-Tanjunganom ini berlumpur.
Gundukan tanah yang terkesan ‘mengotori’ jalan saat musim hujan itu diletakkan di sana bukannya tanpa maksud. Dibalik gundukan tanah itu terlihat banyak laki-laki dan perempuan yang beraktivitas.
Aktivitas warga ini pula yang membuat desa itu semakin dikenal. Selain di sawah, warga Desa Kaloran memang punya pekerjaan alternatif sejak berpuluh-puluh tahun lalu.Turun-temurun ke beberapa generasi.
Ya, pekerjaan itu tak lain adalah membuat kerajinan batu bata. “Awalnya genteng. Tapi dari hari ke hari tanahnya jelek. Jadi, pindah ke batu bata sejak tahun 1990-an lalu,” kata Jumiatun, salah satu warga desa setempat.
Ratusan warga di empat dusun, mulai dari Dusun Kaloran, Dusun Nanggungan, Dusun Bulakmiri dan Dusun Barengan, memang menekuni pekerjaan sebagai pembuat batu bata. Sebagian masih mempertahankan pembuatan genting meski jumlahnya tak lagi banyak.
Perempuan berusia 55 tahun itu pun mengaku belajar membuat batu bata secara turun-temurun dari kakek-neneknya. Berpuluh-puluh tahun silam, tanah di desa setempat memang dianggap yang paling baik. Sehingga, genting atau batu bata yang dihasilkan pun kuat. “Dari mbah-mbah sudah ada,” lanjutnya.
Seiring berjalannya waktu, banyak tanah yang dikeruk semakin dalam. Lapisan tanah yang paling bawah pun akhirnya diketahui kurang bagus dipakai membuat barang yang banyak dibutuhkan untuk pembangunan rumah itu. “Jadi kurang kuat. Makanya pindah ke batu bata yang tanahnya masih cocok,” urainya.
Karena alasan kualitas itu, warga sekitar kini jarang yang memakai tanah lokal. Hampir semua perajin memilih ‘mengimpor’ tanah dari tetangganya. Termasuk dari Desa Trayang yang terletak di sebelah timur desa.
Langkah sejumlah perajin ini diambil bukan hanya karena kualitas tanah setempat yang tak lagi bagus. Melainkan karena lahan-lahan pemukiman di Desa Kaloran yang makin padat.
Sehingga, mereka kesulitan mencari tanah. Padahal, pesanan yang datang ke mereka selalu banyak. “Makanya tanahnya sampai didatangkan dari luar,” sambung Samirah, 56, warga lainnya.
Berapa omset mereka? Rupanya cukup banyak. Setiap bulan, satu perajin dengan dua atau tiga pekerja cetak ini bisa mendatangkan tanah bahan batu bata sekitar tiga rit.
Tanah tersebut akan diolah menjadi sekitar 10 ribu – 15 ribu batu bata. Dengan jumlah sebanyak itu, pekerjaan baru bisa selesai dalam satu bulan. “Sehari paling 500 bata. Makanya, nyari tanahnya bulanan. Sebulan sekali baru cari lagi,” lanjut kakek dua cucu ini sembari memindahkan batu-bata ke tungku pembakaran.
Penghasilan para perajin ini cukup lumayan. Tiap bulan, mereka bisa mengantongi keuntungan bersih sekitar Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Keuntungan itu sudah dikurangi kebutuhan produksi batu bata.
Mulai kebutuhan beli tanah lagi, beli kayu bakar, hingga kebutuhan produksi lainnya. Khusus musim hujan seperti sekarang, biasanya perajin menaikkan harga jual batu bata mereka. Dengan model dan bentuk yang sama, setidaknya jika di musim biasa dihargai Rp 5 juta, saat penghujan seperti ini harganya bisa naik jadi Rp 5,5 juta hingga Rp 6 juta.
Kenaikan harga ini bukannya tanpa alasan. Karena panas matahari tak banyak, pengeringan batu bata usai dicetak memakan waktu dua kali lipat lebih lama. Selama musim hujan, pengeringan batu bata bisa memakan waktu seminggu penuh. Padahal, jika kemarau batu bata bisa kering dalam tiga hari setelah cetak. “Ya repotnya dipengeringan, bisa sampai 6 – 7 hari kalau hujan,” terangnya.
Karena usaha yang ditekuni selama bertahun-tahun dan turun-temurun, para perajin seolah memiliki pasar masing-masing. Sumirah pun biasa menjual batu bata buatannya ke berbagai daerah.
Selain di lokal Nganjuk, beberapa daerah sekitar seperti Jombang, Bojonegoro, hingga Lamongan pun banyak yang pesan di Nganjuk. “Yang paling banyak dari Lamongan kalau sini,” tuturnya.
Uniknya, meski memiliki ciri khas sendiri-sendiri, hampir semua produk batu bata di sana memiliki kualitas yang setara. Hal itulah yang membuat pembeli berdatangan.
Warga pun tak mau mengecewakan pelanggan. Makanya, mereka memilih berkorban waktu lebih lama untuk pengeringan dan pembakaran, daripada menghasilkan produk yang jelek. “Orang-orang sudah percaya. Makanya batanya terus dijaga bisa selalu bagus,” tandasnya. (ut)
Sumber : Radar

Melirik Batik asal Ngetos Kabupaten Nganjuk

0
NGETOS – Di Desa/Kecamatan Ngetos, sebuah perkampungan yang terletak di lereng Gunung Wilis, terdapat kelompok anak-anak muda yang rutin berkumpul setiap hari. Meskipun tempat tinggal mereka jauh dari hiruk-pikuk kota, namun mereka tetap aktif meng-update informasi dan pengetahuan. Salah satunya informasi bahwa lembaga PBB bernama United Nations Educational, Scientific and Cultural Organization (UNESCO), telah menetapkan batik sebagai budaya asli Indonesia. Karena itulah, belakangan mereka terinsiprasi untuk merintis dan mengembangkan kreasi batik tulis khas wilayah mereka sendiri.
Belasan anak-anak muda usia 17-25 tahun itu kebetulan memiliki keahlian, yang kebanyakan orang tidak memilikinya. Ada yang pernah belajar dari orangtua dan neneknya, ada pula yang mendapat ilmu dan teknis membatik dari pengasuh senior di kelompok kumpulan mereka. Setidaknya sudah dua tahun terakhir, mereka merintis usaha yang kini sudah punya workshop di rumah pengasuh mereka, Aries Trio Effendi, 35.”Ini sebenarnya warisan turun temurun dari nenek moyang. Tapi sekarang sudah jarang anak muda yang mewarisinya,” kata Aries, menceritakan awal mula dirintisnya usaha kerajinan batik tersebut.
Didorong semangat ingin mengangkat dan melestarikan budaya tradisional itulah, Aries pun memilih untuk mengembangkan kerajinan batik khusus batik tulis, yang kemudian diajakan secara cuma-cuma kepada anak-anak muda di desanya. Sampai berjalan sekitar dua tahun ini, sudah ada belasan anak muda setempat yang mulai mahir menorehkan lukisan corak batik pada lembaran-lembaran kain di tempat workshop mereka, yang merangkap rumah milik Aries sendiri. “Sudah sering diikutkan pameran di luar kota,” sambung Aries.
Sebagian peralatan membatik didapatkan Aries dan warisan kerabat dan orang-orang tua di desanya, yang pada zaman dahulu sebenarnya sudah pernah memulai kerajinan tersebut. Namun kini, untuk memancing minat anak-anak muda, Aries sedikit memodifikasi pakem corak batik dengan memasukkan warna-warna cerah pelangi. Sementara bentuknya masih tetap mengadopsi corak batik Nganjuk yakni keanekaragaman hayati di hutan Gunung Wilis seperti daun-daunan, pohon hingga beberapa satwa endemik di hutan setempat.
Begitu pula denga corak khas prasasti Anjuk Ladang, sebagai ikon utama Kabupatan Nganjuk. “Sering juga anak-anak SMA dari rombongan sekolah mampir dan belajar singkat ke sini,” lanjut Aries. Sampai saat ini, Aries mengaku masih betah bertahan melanjutkan kegiatan tersebut, dan bahkan sudah berencana mengadakan pameran terbaru, di samping mulai melayani pesanan perorangan. (pas/die)
Sumber : Radar